kehidupan baru di kota baru dengan pekerjaan baru

Hallo semuanya, apa kabar?! 

Udah lama nih saya ga posting di blog saya ini, bahkan di luar dugaan… Saya ternyata melewati beberapa masa penting dalam hidup saya tanpa curhat di blog saya ini. Berbeda seperti tahun-tahun sebelumnya, beberapa waktu lalu saya malah skip update blog saya di hari ulang tahun saya atau ulang tahun Matteo Brighi.

Eaaa, bagi yang masih bertanya-tanya, yup, saya masih terobsesi dengan pemain bola kelahiran 31 tahun yang lalu itu!

Hahaha, jadi apa yang terjadi pada saya selama dua bulan ke belakang ini sampai-sampai ga sempat update blog barang satu postingan sekalipun?

Alasan pertama adalah karena setelah beberapa bulan menyandang status pengangguran, akhirnya sejak pertengahan bulan Januari lalu saya mendapatkan pekerjaan. Hal inilah yang bikin blog saya ini jadi sedikit terabaikan, selain juga kenyataan bahwa hingga saat ini saya masih belum punya koneksi internet di kosan. 

Read More

Tuesday Mar 3 @ 06:37pm
syukur

Saya memutuskan untuk memberi judul postingan saya ini ‘syukur’ karena sebagai manusia, saya harus mengakui bahwa seringkali saya lupa untuk bersyukur dengan keadaan saya sampai saat ini. Jujur, kalo boleh refleksi diri, sejauh ini paling saya menulis postingan yang berisi rasa syukur setahun sekali di akhir tahun, itupun kalo saya inget… Selebihnya, buat segelintir orang yang mungkin sering baca postingan saya, postingan saya kebanyakan isinya tentang rutukan saya tentang kehidupan. Hmmm. 

Dan seperti biasa, karena inspirasi datang darimana aja… Kali ini inspirasi datang dari berita duka dari selebritis tanah air Valia Rahma yang baru saya meninggal dunia. May she rest in peace. Dan tiba-tiba saya menyadari sesuatu tentang dunia, nyawa, kematian, dan misteri kehidupan.

Read More

Saturday Jan 1 @ 11:26pm
reSOULusi 2012

Selamat tahun baru 2012 untuk semua teman-teman dan pembaca setia postingan saya kalo ada! HAHA. Jadi, bagaimana tahun baruan kalian? Menyenangkan?! Saya sendiri semakin lama semakin merasa kalo emosi saya betul-betul semakin kehilangan fungsinya karena saya rasanya udah cukup lama ga merasa TERLALU senang atau bahkan TERLALU sedih. Kayanya apapun yang saya lakukan, saya ngerasa biasa aja… 

Untuk kali ini, tahun baruan ini saya di rumah seperti biasa mengingat saya males kemana-mana dengan alasan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Yaitu (1) Bandung macet dan (2) Saya males nginget-nginget Tahun Baru 2008 waktu mobil saya nabrak pohon berhantu di depan rumah Norman.

Dan seperti biasa, saya dan adik-adik saya memilih untu menghabiskan tahun baru kami dengan marathon DVD, kali ini serial FRIENDS jadi sasaran kita sambil juga ngelus-ngelus perut Metal yang lagi hamil besar dan memastikan Disco ada ga jauh dari pandangan kita karena dia merasa diteror dengan adanya kembang api dan petasan yang dinyalakan di sekitar rumah kami. Maklum, kita sendiri agak kuatir karena selain Disco udah tua, dia juga riwayat jantung dari bapaknya. :( 

Jadi, mengingat udah lama banget saya ga nulis karena akhir-akhir ini saya emang jarang lama-lama ngenet, dan kalopun ngenet juga pake modem GSM saya yang naudzubillah bikin emosi tiap kali saya pake, jadi seperti biasa… Tipikal akhir tahun atau awal tahun baru, kali ini saya mau nulis tentang resolusi tahun 2012. Dan karena kemarin adalah hari terakhir tahun 2011, ga ada salahnya untuk liat kembali resolusi saya di tahun 2011

Read More

Sunday Jan 1 @ 11:23pm
sepotong cerita dari ibu kota

Sejak awal November, saya mulai ngekos di daerah Mampang Prapatan, Jakarta. Saya ngekos pun bukan karena saya udah resmi diterima di perusahaan manaaaaaaaa gitu, karena jujur saat ini saya masih berstatus pengangguran!

Saya ngekos pun semata cuma karena saya kebagian tugas jadi Liaison Officer untuk acara olahraga se-Asia Tenggara yang rame diberitakan di media, dari soal korupsinya sampe kemenangan Indonesia sebagai juara umumnya. Terlepas dari berita miring soal korupsi Nazaruddin yang sempet jadi buron atau soal hoax yang bilang beberapa atlet di Jakabaring keracunan, saya sendiri merasa senang bisa menjadi salah satu bagian dari even olahraga terbesar se-Asia Tenggara ini. 

Yah, paling engga walaupun saya sendiri ngerasa panitia menangani acara ini belum sempurna, tapi seengganya saya masih bisa menemukan hikmah di balik pekerjaan saya sebagai LO tersebut. Dari mulai merasakan kebahagiaan bersama teman-teman satu penugasan, sampai merasakan kejamnya ibukota. 

Read More

Wednesday Nov 11 @ 11:12pm
karakter binatang pada manusia

Ada yang pernah denger frase “Man is a political animal”-nya Aristoteles? Nah, saya kurang lebih mau menulis sesuatu yang berhubungan dengan frase tersebut, tapi bukan dilihat dari sudut pandang politis seperti apa yang dijelaskan Aristoteles… Lebih ke kehidupan sehari-harinya manusia yang kadang mengadopsi karakter binatang di sekitar kita. 

Bukan, bukan maksud saya nyama-nyamain manusia sama binatang lho… Karna saya tau persis kalo kita sebagai manusia JAUH lebih baik daripada binatang, karena kita diberi akal untuk berpikir. 

Saya terinspirasi untuk menulis ini karena beberapa hari yang lalu, saya mengikuti training LO buat SEA Games 2011 di Jakarta, dan salah satu trainer-nya di tengah-tengah memberi materi beliau meminta kami menuliskan binatang-binatang favorit masing-masing berdasarkan urutan yang paling disukai sampai yang ketiga disukai.

Dan berhubung saya mau memberikan kesan yang baik karna sebelumnya kesan saya sudah berantakan gara-gara telat datang, saya pun menjalankan tugas yang diminta si trainer tersebut dengan baik, walaupun sebetulnya saya sendiri ga tau maksud dari tugas tersebut itu apa.

Awalnya saya bingung antara memilih anjing atau kucing sebagai binatang favorit #1 saya, tapi akhirnya saya memutuskan untuk memilih kucing dengan alasan saya punya Disco dan Metal, ditambah obsesi saya terhadap kucing-kucing besar seperti harimau, macan, dan singa. 

Read More

Friday Oct 10 @ 10:52pm
esensi psikotes

Akhir-akhir ini, sebagai seorang job seeker yang banyak orang mengartikannya dengan makna konotatif dan menyebut saya pengangguran, saya disibukan oleh berbagai macam psikotes dan interview yang bikin saya semakin bingung sebenarnya apa tujuan hidup saya di masa depan. Dulu saya dengan yakin mengatakan tujuan hidup saya adalah menjadi orang sukses yang bisa berguna untuk lingkungan dan orang-orang di sekitar saya. 

Dan seiring berjalannya waktu, pemikiran saya pun semakin kompleks dengan munculnya pertanyaan lain yang juga bikin saya ga kalah bingungnya. Apa yang akan saya lakukan untuk menjadi orang sukses tersebut? Apakah dengan menjadi seorang reporter, seorang jurnalis, atau menjadi seorang bankir? Pertanyaan itu menghantui saya mengiringi pupusnya mimpi saya jadi diplomat. HAHA. 

Tapi, mari lupakan sejenak soal esensi hidup yang selalu penuh dengan pilihan tersebut, karena saya tiba-tiba mendapat ide untuk menulis sesuatu yang berhubungan dengan apa yang sedang saya cari saat ini: pekerjaan. Idenya ini muncul dari salah satu pertanyaan wawancara di salah satu perusahaan kosmetik lokal yang sedang buka lowongan untuk program Management Trainee-nya.

Pertanyaan dalam wawancara tersebut bikin saya berpikir mengenai masa depan saya, terutama dengan status saya sebagai job seeker saat ini. Pertanyaan dalam wawancara tersebut sebetulnya simpel, yaitu apa esensi dari pekerjaan menurut anda dan bagaimana arti profesionalitas berdasarkan opini anda? 

Read More

Tuesday Oct 10 @ 11:03pm
propaganda dan simulakra

“Well, for one thing, the culture we have does not make people feel good about themselves. We’re teaching the wrong things. And you have to be strong enough to say if the culture doesn’t work, don’t buy it. Create your own. Most people can’t do it.” Morrie Schwartz (Tuesdays with Morrie)

Jangan terlalu terintimidasi sama judul postingan saya kali ini, karena dua kata itulah yang terlintas di benak saya ketika saya kepikiran buat menulis ini. Dan kali ini inspirasi saya berasal dari novel yang baru saya beli kemarin, Tuesdays with Morrie

Beberapa waktu yang lalu, setelah saya psikotes di salah satu perusahaan di Jakarta, saya dan beberapa teman ke Mal Kelapa Gading buat makan siang sekalian saya menunggu sampai pukul setengah empat karena setelah itu saya ada briefing di Pulo Gadung. Tiba-tiba, Glenn ngajak ke toko buku dulu dan kita berenam pun akhirnya memutuskan buat ke Periplus dulu. 

Ga berapa lama disana, saya yang udah lama ga berkunjung ke toko buku dengan uang di dompet pun tiba-tiba betah menyusuri rak-rak buku dari mulai komik Amazing Spider-man sampai buku masaknya Rachael Ray. Karna hari sebelumnya kebetulan saya baru dapet kerjaan dan bayaran, maka saya akhirnya pun memutuskan buat menghadiahkan diri saya sendiri sebuah buku setelah sekian lama saya cuma berkutik dengan buku-buku text book yang terpaksa saya baca demi menyelesaikan skripsi. 

Tapi, bukan saya namanya kalo ga terjebak dalam satu situasi yang menggambarkan sikap labil saya sebagai manusia berumur 22 tahun. Nah, kali ini saya pun labil karena bingung memutuskan buat beli Tuesdays with Morrie atau Sing You Home-nya Jodi Picoult. Beberapa pertimbangan pun saya pikirkan dari mulai halaman buku Sing You Home yang lebih tebal dengan harga yang sama dengan Tuesdays with Morrie dan lain sebagainya. 

Oke, jadi diantara teman-teman sekalian mungkin akan menyangka saya norak atau ketinggalan jaman karena baru baca Tuesdays with Morrie sekarang. Tapi jangan salah, saya sebenernya udah lama banget pengen baca buku ini, dimulai dari saya membaca satu quote di multiply-nya Ajeng yang dikutip dari buku tersebut. Kutipan “Death ends life, not relationship” bener-bener mengena di hati saya, selain juga beberapa kali saya liat profile facebook-nya Teh Mona (almh) dan melihat buku tersebut berada dalam daftar buku favorit beliau. Terlebih, saya pernah nonton salah satu episode The Simpsons yang juga menyebutkan judul buku tersebut. 

Nah, di tengah kebingungan saya akhirnya pendapat Mei pun membuat saya luluh untuk akhirnya memilih Tuesdays with Morrie untuk dibeli. Mengingat di cover bukunya ada tulisan “The runaway bestseller that changed millions of lives” dengan huruf kapital, Mei berpendapat bahwa saya harus beli buku tersebut dengan harapan akan mengubah hidup saya yang sampah ini. HAHA. -_- 

Read More

Wednesday Oct 10 @ 11:29pm
kata hati

Beberapa hari yang lalu, saya dapat panggilan untuk interview di sebuah perusahaan indeks saham di Jakarta. Long story short, saya diminta untuk ikut training mulai Selasa depan. Akhirnya, saya pun galau karena di satu sisi saya udah ngerasa bosen jadi pengangguran, tapi di sisi lain juga hati saya berkata ‘ngga’ buat pekerjaan ini. 

Oke, kalo sebelumnya orientasi saya mencari pekerjaan adalah (1) dapat kerja yang sesuai dengan bakat, minat dan keinginan saya atau (2) coba bidang lain, walaupun bukan keinginan saya tapi saya bisa belajar dengan penghasilan yang lumayan.

Singkat cerita, walaupun di perusahaan tersebut saya diiming-imingi jumlah gaji yang menggiurkan, tapi hati saya betul-betul yakin buat menolak tawaran di perusahaan tersebut. Dan akhirnya, saya pun sedikit ga percaya untuk mengakui bahwa memang, dalam hidup itu uang bukan segalanya. 

Read More

Saturday Sep 9 @ 09:48pm
The L-word that Scott Pilgrim thought Lesbian.

The L-word that Scott Pilgrim thought Lesbian. Or Lesbians. Love. 

You can judge me whatever you like, but I am one of those people who find it hard to say that L-word to people. My pride is too high to say it to people. Some people that I love, I do not let them know that I actually do love them. Paradox, isn’t it? 

Have you ever wondered why some people love their pets more than they love people? I always have, because I always think that I love my pets more than people that I’ve loved. 

But it’s not true, the truth is that I love them equally but the way I express the L-word to one and another, it is simply different. 

Read More

Sunday Sep 9 @ 12:31am
idola

Beberapa kali saya orang-orang terdekat mengingatkan saya bahwa sudah lewat waktu saya untuk mengidolakan selebritis dan bermimpi untuk bertemu salah satu dari mereka.

Adik saya pernah memandang saya dengan tatapan ga percaya karna ga bosen-bosennya mantengin buffering video klip Carrie Underwood di youtube, ratusan temen saya bahkan seringkali memandang saya dengan tatapan menghina tiap kali saya ngeles soal saya jomblo karna pengen ketemu Matteo Brighi dulu. Lebih dari itu, temen SMA saya pun pernah nyangka saya lesbian cuma karena dulu saya ga menunjukkan ketertarikan saya sama cowo-cowo real di dunia nyata yang kira-kira bakal mudah saya temui. Dan seperti kata ibu saya, saya ini orangnya keras kepala. 

Inget quote di film 500 days of Summer waktu Summer bilang dia suka Ringo Starr dan cowonya bilang ‘nobody loves Ringo Starr’, dan lalu Summer bilang ‘that’s why I love him’? Nah, saya adalah tipe penggemar seperti Summer, yang semakin sedikit saya menemukan orang-orang seperti saya yang juga menggemari selebritis tersebut, maka saya semakin suka sama selebritis tersebut. 

Boleh percaya atau engga, kalo sekarang hampir semua penyuka sepakbola tau Kaka, saya (sempat) ngefans sama Kaka waktu dia masih main di Sao Paulo. Saya inget, satu kali waktu SMP ada study tour ke Jogja dan saya bawa kliping koleksi saya yang ada artikel Kaka-nya, dan bam! Ketinggalan di bis dan saya nyampe Bandung nangis-nangis. HAHA. Okelah, itu adalah salah satu contoh konyol tentang saya ngefans sama orang, karena toh ketika Kaka mulai dikenal, saya langsung hilang minat. Hmmm. 

Dan itulah kenapa saya kali ini merasa perlu menulis tentang kegemaran saya terhadap beberapa selebritis, karena sejauh ini saya masih melihat diri saya dalam taraf positif ngefans sama mereka. Bahkan, disadari atau tidak, idola-idola saya ini juga memiliki peranan-peranan penting buat saya hingga saat ini. Ga peduli bagaimana orang-orang memandang saya sebagai seorang wanita muda berusia 22 tahun dengan mental remaja tapi muka tua. Krik. 

Read More

Wednesday Sep 9 @ 11:16pm
Powered by Tumblr :: Themed by Fusels